Tampilkan postingan dengan label Pecinta Syair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pecinta Syair. Tampilkan semua postingan

Jawaban Untukmu

Mungkin aku harus mengatakannya padamu
Walau, kutahu kau sulit menerima jawabku
Lewat sepucuk surat tak bernama
Aku haturkan seuntai resahku

Tentang jalan yang kutempuh
Yang tak seorangpun mau rengkuh
Sebab tak tahu jalan ini berakhir ke mana
Ini bukanlah jalan yang nyaman! Sekali-kali bukan!
[Sementara kau menuduhku berleha-leha]
Malahan, begitu berduri dan menanjak
Terkadang aku menangis dalam diam, kau kan tak tahu itu
Dan rasa sakitnya mencabik-cabik jiwaku
Sebegitu perih jalanku, aku menyimpannya dalam tawa
Tapi, apakah aku harus mundur karenanya?
Sebab aku bukanlah pengecut, aku melawan takut.

Kisah ini memang hanya diperuntukkan bagiku
Akulah yang menulis awal cerita
Aku pulalah yang mengakhirinya
Karena aku seorang laki-laki
Dan laki-laki harus menepati janji
Walau bisa jadi kisah ini tak berakhir bahagia
Mungkin saja aku terperosok jurang, lalu mati
Namun setidaknya aku berjuang atas apa yang kupercayai
Sehingga matipun, masih memiliki arti

Kau mungkin tak pernah tahu
Bahwa aku pun merindukan teman seperjalanan
Sebab keterasingan membawakan dendam
Hei, pandanglah aku sebagai manusia
Bukan sebagai mesin tak bernyawa
Ada kalanya aku begitu lemah, dan butuh pertolongan
Hanya saja, aku tak tahu bagaimana meminta
Sebab akulah serigala yang diasuh oleh buasnya kehidupan
Sehingga taring-taringku begitu tajam
Dan cakar-cakarku meruncing seram
Dalam perjalanan panjang, aku berburu sendirian
Aku hanya tahu bertarung, bukan bercinta
Selama ini, hanya angin lalu jadi kawan bicara
Dalam rintik hujan, aku melolongkan kesedihan
Hidup dalam membangkang, berbeda dan tak serupa
Hingga rembulanku pun mengutukku nista
Lalu makhluk lain mengintip dalam dusta

Walau demikian, aku tak ingin menyakiti siapapun
Sebab jalan ini sangatlah licin dan curam
Tak banyak yang mau melaluinya
Ataupun selamat mengakhirinya
Dalam pengembaraan, kulihat mayat-mayat bergeletakan
Lalu, haruskah aku menyeret seseorang?
Hanya demi kegembiraan seorang resah,
Sehingga aku mengorbankan tumbal
Sampai langit mengungkapkan takdir
Sampai matahari menerakan cahya
Dan menyuruhku beristirahat dalam selimut dunia
Aku takkan berhenti
Aku kan terus berlari
Walau sendiri mengundang sedih

Kusudahi surat ini dengan harapan
Agar kau jangan coba menghakimi
Sekali-kali jangan! Sebab resah dapat menjadi amarah
Dan kau sama sekali tidak mengenalku
Hidup dan jiwaku seperti labirin
Yang manusia tak tahu apa dibaliknya
Begitulah aku, sebegitu pula jalanku.

Satu Jalan, Yang Pasti Melawan

Apakah ini hanya mimpi?
Untuk melihat tunas bangsa ini dalam senyum
Tanpa perlu takut derita merajalela
Saat kemelaratan memagut maut
Menjadikan benih generasi melayu sayu
Meranggas oleh genangan air mata
Dan tumbang, sebelum saatnya berkembang

Apakah ini hanya mimpi?
Untuk berdiri tegak sejajar
Tanpa perlu tertunduk malu
Sebab moral masyarakat sudah sedemikian bejat
Di negeri dimana korupsi dilegalkan
Agama diperjualbelikan dan dikebiri
Sedang hukum diperkosa oleh birokrasi

Apakah ini hanya mimpi?
Untuk mengikut pada angin perubahan
Yang menghembus, berpilin, dan berputar
Meruntuhkan bangunan-bangunan kezaliman
Bersama dengan pemuda-pemuda zaman
Yang tetap menentang, walau aral melintang
Bersikukuh pada idealisme, bukan kenyataan

Satu mimpi, yang mesti digenapi
Satu jalan, yang pasti melawan

Jikalau dan jikalau,
Mimpi ini selamanya hanyalah mimpi
Jangan pernah biarkan aku terbangun!

Jika

Jika pujangga boleh bertanya,
Tentang apa cinta bercerita
Jika pangeran boleh berhasrat,
Oleh apa kasih diikat
Jika perenung boleh melamun,
Ialah takdir akankah bersambung

Demi masa depan yang tiada pasti
Pengelana mimpi berjuang mencari arti
Berharap jawab yang terus saja sembunyi
Di balik hati seorang putri

O, hanya gaung bisu diperdengarkan
Untuk sekuntum kembang, begitu menawan
O, akankah khianat, engkau wahai harap?
Mendesah rindu, bersambut senyap

Satu kata, sungguh sulit diungkap
Terhasut takut, berpadu malu
Kepada pemilik nama yang ingin diucap
Hadirkah aku, di sela benakmu?

Dewi Surgawi

Sampai kapan jalan mesti didaki
Untuk permata nan terus dicari
Akankah waktu menyibakkan tabir?
Akankah takdir tersenyum hadir?

Kulihat puspa seroja sehasta jaraknya
Wahai dewi, yang namanya tertera di kelopaknya
Adakah pintu surga kau yang membawa kuncinya?
Untuk kehormatan yang ingin kujaga

Satu mimpi yang masih dinanti
Satu iman yang harus digenapkan
O, biduk bahtera yang lelah bersauh
Kemanakah kemudi berpulang berlabuh?

Jika kata sudahlah sia
Jika air mata tak lagi ada
Untuk ungkapkan beban disimpan dalam
Oleh sunyi sepi, di malam tiada rembulan

Sebab ini bukan lagi rasa
Melainkan keyakinan tanpa sesalan

Pada Sesatan Jalan

Aku maki dosaku yang slalu membayangi
Aku sumpahi malam tiada pelita suci
Jika naluri membawaku pergi
Sedang hasrat mengikat kuat
Lalu apa yang menyisa?
Hanya lelah yang kudapati
Tanpa sedikitpun bahagia

Aku muak!
Tak lagi bijak
Aku muak!
Dan jiwaku rusak

Dan, iblis selalu merayap dekat
Merayuku pada akhir celaka
Penuh bujuk dan tipu daya
Untuk sekali lagi terantuk
Terjatuh, tenggelam semakin dalam
Tak bisa berhenti, aku terus berlari
Tapi sesuatu menarikku kembali

Aku muak!
Tak lagi bijak
Aku muak!
Dan jiwaku rusak

Aku bermohon pada-Mu sangat
Hanya tak banyak jawab
Dan tiada lagi isyarat
Jika bukan pada pintu-Mu,
Lalu kemana aku harus berpaling
Sebab, tiada selain Engkau yang Maha Tahu
Sungguh, aku takut ajal menjemput
Sebelum doaku ini bersambut

Aku ingin pulang pada-Mu
Tapi, tak ada rumah lagi tuk kembali

Tentang Derita

Jangan pernah bicara padaku
Tentang arti derita
Jikalau tidak dalam satu waktumu
Kau menggigit lidahmu keras, sampai kebas
Tuk menetak rasa sesak
Tuk menolak merintih pada pedih

Kau ingin menangis, tapi tak bisa
Kau berdoa untuk menangis, tetap tak bisa
Air mata lama telah kau buang,
Agar roda terus berjalan dan bertahan
Kini, kau ingin memanggilnya
Untuk tahu bahwa kau masih manusia
Tapi yang tersisa darimu hanyalah –
Hatimu yang dingin membeku
Dan gurun luas tanpa batas

Tak ada apapun
Tak ada siapapun
Tak pernah merasa kehilangan
Karena tak jua pernah memiliki
Dan dunia hanyalah cawan kosong belaka

Dan kehidupan menorehkan dendam
Untuk siapa, dan untuk mengapa
Kau mungkin takkan pernah tahu
Saat resah berubah jadi amarah
Saat lara tanpa lembut belaian
Hingga tak banyak yang tersisa
Hanya kepingan kerikil hampa

Waktu mencarutkan luka sembilu
Tiada tersapu, oleh senyum palsu

Dalam satu waktumu yang itu
Tak seorangpun menginginkanmu
Sebab tak seorangpun memahamimu
Tak ada! kecuali egomu yang membatu
Saat memohon tolong; engkau dibokong
Oleh mereka yang menetap dekat
Oleh mereka yang mengaku sahabat
Dengan pedang kata, menghujam sangat
Hinaan demi hinaan mesti kau kerat
Tiap detik tak jua berhenti, berlalu begitu lambat
Dan kau bertanya sebab apa semua derita ini
Dan kau bertanya mengapa engkau terlahir berbeda
Dan kau bertanya tentang maut yang tak jua mau menjemput
Dan kau bertanya tentang arti hidup dan keberadaanmu
Dan kau bertanya benarkah ada akhir bahagia
Tak banyak jawab, hanya rasa sakit yang menusuk tetap
Tak banyak jawab, dan kau mesti terus bertahan tetap
Meski dunia dalam gulita, tak pula ada cahya

Sementara itu, semua orang menjadi hakim
Dan kau tertuduh, di antara serigala lapar
Kecuali kau, semua merasa benar
Tanpa pernah sekalipun mereka bertanya
Tak sekalipun mereka coba bertanya....!

Sepi di antara keramaian
Sepi yang tak bisa hilang

Kau bawa rintihmu selalu
Untuk disimpan lalu

Jangan, jangan pernah bicara padaku
Tentang arti derita,
Jikalau hidupmu bertabur semburat,
Berbantal senyum, berselimut kasih
Tak satu waktumu kau mengalami derita sesungguhnya

Tapi, siapalah aku bicara padamu
Tentang arti penderitaan
Sebab aku bukanlah –
Bukanlah Ayyub dalam kisah abadi
Yang dimuliakan Tuhan oleh ujian
Untuk melawan derita dalam sendiri
Demi iman sebagai penghujung jalan

Bukan pula Nuh, bahtera nan berlayar
Diabaikan sanak saudara, demi keagungan taqwa
Menjelajah negeri, mencari ridha-Nya
Tanpa pernah berkeluh kesah,
Dalam waktu yang ratusan tahun
Tahun-tahun panjang di mana darah dicucurkan
Ia membangun kerajaan di atas perahu dan karang
Menempuh bahaya, melintasi samudera

Bukan, bukan pula Muhammad,
Sang risalah utama yang berjalan
Olehnya, umat mengenal selamat
Bahwa ia dilempar batu dan berdarah,
Bahwa ia terusir dari kampung halaman,
Bahwa ia diludahi lalu dicaci maki
Itulah harga yang mesti dibayar
Untuk keyakinan termaktub di dalam dada
Untuk kemenangan hakiki nan abadi

Mereka, mereka mengenal derita sesungguhnya
Untuk apa derita, untuk siapa diperuntukkan
Jalan yang menanjak, berbatu, dan tajam
Mereka lalui dengan ta’bah, tak sekalipun menyerah
Tak sekalipun menyerah; Namun selalu berserah pasrah

Maka,
Jika nestapa ialah tangga;
Kan kudaki sampai ujungnya.

Surga di Bumi

Tirai kehidupan tiba-tiba saja tersibak
Teka-teki misteri perlahan terkuak
Dan cahya terang merasuk ke kamarku yang suram
Aku melongok keluar jendela, untuk menyaksikan
Lalu kulangkahkan kakiku mengitari kota
Menghirup napas kebebasan yang melegakan
Dan dunia serasa berubah
Sebab semua menjadi lebih indah
Walau hati ini masih berkandung gundah
Semangatku seakan membuncah
Dan mimpiku berkecambah;

Jalanku menjadi lebih terjal, tetapi sekarang jelas
Hutan mana yang mesti kuterabas
Tak peduli sakit ataupun panas
Segalanya kuterima dengan hati puas
Sebab Rajawali takkan tumbuh jika takut terbang
Dan mentari tak ditakdirkan sembunyi di balik awan
Jika manusia enggan berjuang,
Lalu apa yang didapatkan, kecuali putus asa dan kesedihan

Hari ini, aku hidup demi mimpiku sendiri
Hari ini, mimpiku lebih berharga dan segalanya
Untuk membuktikan bahwa aku benar;
Bahwa keberanian melahirkan keberhasilan
Ketekunan melampaui semua kekuatan
Dan kejujuran bukanlah kelemahan
Hanya satu jawabnya,
Mahkota Sang Raja di istana mesti digenggam

Tapi suatu saat nanti, aku ingin hidup untuk orang lain
Dadaku selalu sesak melihat anak-anak jalanan
Mereka mengemis dan kelaparan
Dan ibu yang menangis tertahan
Saat bencana datang tanpa peringatan
Mereka yang tertindas memohon pertolongan
Untuk keadilan yang tak jua datang
Oh, bangsaku yang wajahnya tercoreng arang
Tunggulah, jika saatku tiba;
Saat aku cukup kuat menanggung beban
Saat kata-kataku bukan lagi angin yang tak dipedulikan

Aku ingin membangun surga
Di atas bumi yang tak sempurna
Dimana semua orang bisa bahagia
Saling berbagi, walau hanya sejumput doa

Sekarang, mungkin tanganku terulur lemah
Dan hanya bisa kusampaikan keluh kesah
Tapi, mimpi untuk suatu saat nanti
Takkan boleh mati; Mesti jadi abadi

" Wahai, Apakah Itu Cinta?

Aku memandang nyalang, pada manusia lalu lalang
Kulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tangan
Kata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan mega
Mangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentara
Namun di sini, berdiri aku dalam keraguan
Tak mengerti dan terus bertanya :
Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?
Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?
Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,
Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?

Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnya

Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknat
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Birahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweran
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa

Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa

Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang

Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya

Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana

Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”

Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
Cinta bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
Cinta adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah cinta.
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta

Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai

Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati.

A Dream's Journey

Di pelukan hangat yang tak pernah kudapat
Di sentuhan lembut yang pergi terenggut
Kisahku dimulai bercumbu sendu
Mencari arti hidup bersandar secuil redup

Di relung ragu aku menatap cemburu
Pada tegar rembulan bersinar terang
Walau mentari pergi sembunyikan diri
Rembulan datang menantang malam

Tergerak sesak, aku berlari di antara retak
Lalu jauh menyepi mensucikan hati
Menuntaskan ilmu, merundukkan kalbu
Bersua mimpi yang tiada bertepi

Dan mimpi itu bersemi
Mengisi hari di tajamnya duri
Secercah harap membuyarkan senyap
Membisikkan arti di jiwa yang mati

Kulalui lorong sempit. Walau sakit!
Untuk impian yang hadir berselang
Di tengah kota, kusapa makna
Di antara lara, di serambi noda

Menaiki tangga, aku mencapai nirwana
Sendiri. Aku pergi.
Mendaki. Jalan janji.
Di gerbang surga, kuketuk rasa

Tapi...
Sepi
Meski...
Tinggi

Lama kutermenung di menara agung
Jiwaku lapar, lalu aku turun ke selasar
Kembali, ke tanah bumi
Berlaku sujud, untuk mewujud

Namun aku tersandung di ujung palung
Di pekat paling pekat
Di hasrat tak tersurat
Oleh takdir yang terus ikut hadir
Gelap itu kembali menghalangi waktu
Dan pegangan tangan tak lagi erat tergenggam
Kabut kemelut menyisakan sejumput takut
Tentang simpangan jalan mensesatkan

Walau remang aku masih terus berjuang
Kepada impian yang menyesapkan tujuan
Malam dan pagi, hanya mimpi itu yang menemani
Memendarkan cahaya samar, di atas kanvas pudar

--
Memoar of A Journey
Wondering how it ends