Klub Buku
- 1/16/2009 01:44:00 AM - 0 komentar
FPI: Hitam, Putih atawa…
FPI: Hitam, Putih atawa…
Moh Samsul Arifin
Judul Buku: Hitam Putih FPI
Penulis: Andri Rosadi
Penerbit: Nun Publisher, Jakarta
Cetakan: Juli 2008
Tebal: 237 Halaman
Indonesia pasca-Soeharto tak bisa dilepaskan dari kiprah Front Pembela Islam (FPI) di layar publik. Tapi, citra organisasi masyarakat yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu berselimut jelaga hitam. Publik mengidentikkannya dengan kekerasan. Fakta-fakta aksi kekerasan itu begitu mudah dideretkan, tak lebih sulit dari menata papan catur.
Sebutlah penutupan bandar judi, penyerangan ke kantor Majalah Playboy, penutupan kampus Ahmadiyah di Parung, perusakan Kedubes AS, hingga yang paling anyar kerusuhan di Monas Jakarta, 1 Juni lalu.
Dalam aksinya, FPI bertindak bak aparat penegak hukum. Merazia bandar judi, lokalisasi atau menangkal kemaksiatan dan pornografi dilakoninya dengan menabrak tatanan hukum positif yang berlaku di ruang publik. Saat anggota atau Laskar FPI melakukan itu semua, kalangan pengkritiknya menilai sesungguhnya FPI telah menggantikan peran kepolisian –institusi yang otoritatif menegakkan hukum di tanah air. Sisi gelap ini menempatkan FPI sebagai ormas yang tidak toleran, dan menerbitkan ketakutan, bukan hanya pada sasaran-sasaran aksi mereka, tapi juga publik luas.
Buku Hitam Putih FPI ini ingin keluar dari stereotipe atau pelabelan yang menguras sisi gelap saja. Penulisnya, Andri Rosadi –jebolan Al Azhar Kairo, Mesir– memberanikan diri menyingkap FPI dari dekat,
langsung dari markas pusatnya di Petamburan, Jakarta. Dengan terjun ke markasnya dan terlibat intensif di pengajian-pengajian FPI serta mewawancarai pengikut, anggota, dan petinggi FPI, termasuk Habib Rizieq Shihab, Andri Rosadi menyediakan diri untuk menerima sisi hitam dan sekaligus sisi putih ormas berlambang ”dua pedang” ini.
Studi S-2 Andri Rosadi di UGM Jogjakarta ini mengisi kekosongan literatur mengenai FPI, apalagi menggunakan pendekatan antropologi. Kajian antropoligis ini penting karena kurangnya studi-studi kasus tentang komunitas muslim radikal secara partikular. Adapun datanya diambil lewat observasi partisipasi dan wawancara mendalam.
Kemunculan FPI pada 17 Agustus 1998 tak lepas dari lemahnya negara yang tidak mampu lagi menjalankan sebagian fungsinya seperti regulasi dan penegakan hukum. Ini menerbitkan kekecewaan di kalangan
masyarakat, yang disikapi dengan munculnya kelompok-kelompok independen semacam FPI yang berinisiatif menegakkan hukum menurut cara, pemahaman, dan kepentingan mereka (hlm. 134). Dengan demikian, FPI hanyalah reaksi dari merosotnya wibawa negara yang di zaman Orde Baru begitu kuat di hadapan masyarakat sipil. Begitu pula kehadiran FPI tak lantas memperkuat masyarakat sipil karena hakikatnya FPI memerosotkan citra keadaban yang seyogianya dijunjung tinggi unsur-unsur masyarakat sipil.
FPI membawa misi Islam sebagai solusi dan menempatkan amar makruf nahi munkar (menyeru pada yang baik dan mencegah kemungkaran) sebagaigagasan utama. Ini dikonkretkan dengan desakan untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia, sesuatu yang menghubungkannya dengan perjuangan Piagam Jakarta. Berbeda dengan Hizbut Tahrir Indonesia, FPI sebetulnya tak bermaksud mengubur hukum positif (warisan Belanda).
Tak pelak saat menyaksikan realitas sosial tak sesuai dengan nilai-nilai moral agama, FPI beraksi. Apa yang dilakukan FPI merupakan simbol dari ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan refleksi dari krisis moral di
masyarakat. Dapat dimaklumi jika dalam aksi-aksinya FPI selalu konfrontatif –seolah-olah negara (baca: alat-alat negara) mati ketika mereka bergerak. Persoalannya, bagaimana menerjang hukum positif yang
menjadi common platform kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Namun, menurut Andri Rosadi, apa yang dilakukan FPI bukan hanya aksi-reaksi semata. Sebab, sikap dan perilaku mereka juga dibimbing teks –dalam hal ini ayat-ayat yang menyeru pada amar makruf nahi
munkar. Sebagai majoritas kaum Sunni di tanah air, FPI juga menganut mazhab Syafii –sebuah mazhab yang menempatkan teks dan akal secara seimbang. Dalam sejarahnya, penganut Syafii selalu menjaga nuansa moderat dalam menilai dan menghukumi sesuatu. Hanya, dalam hal tertentu, pola keberagamaan pengikut FPI yang dibentuk Habib Rizieq terpengaruh Islam Petro (Wahabisme) yang berhulu di Arab Saudi.
Cirinya kaku, teks dominan, dan memahami akidah secara rigid, dan keras terhadap pelanggaran nilai-nilai agama (hlm. 92-93). FPI juga terpengaruh Sayyid Qutb, salah seorang ideolog Ikhwanul Muslimin.
Studi Andri Rosadi juga mendedahkan bagaimana organisasi FPI ditata dan dikelola, hubungan Habib Rizieq dengan pengikutnya, pola rekrutmen anggota hingga friksi serta intrik di tubuh FPI (hlm. 87-128). Salah satu pilar FPI justru berada pada sosok Habib Rizieq. Dia adalah sumber otoritas moral dan agama, pusat kuasa sekaligus manajer yang baik bagi organisasi.
Sejauh ini, FPI bisa bersatu di bawah Habib Rizieq yang dapat diterima kelompok-kelompok di ormas tersebut. Habib Rizieq otoritatif karena secara geneologis mengklaim punya garis keturunan Nabi Muhammad SAW.
Integritas Habib Rizieq dipandang mulia di kalangan pengikutnya. Suatu waktu, Habib Rizieq ditelepon Presiden Yudhoyono yang mengucapkan terima kasih atas kiprah anggota FPI menolong korban tsunami di Aceh. Presiden berniat memberinya Satyalencana. Tapi Habib Rizieq menolak dengan halus, dan mengusulkan agar penghargaan itu diberikan kepada 1.200 sukarelawan FPI yang berjibaku mengevakuasi 30 ribu lebih mayat di Serambi Mekkah (hlm. 121). Sisi putih FPI yang bederma pada kemanusiaan dengan menolong korban tsunami sambil meninggalkan pekerjaan serta keluarga itu kurang ditonjolkan oleh pers.
Kajian antropologis ini seharusnya menyumbang lebih banyak apabila Andri Rosadi menawarkan ”proposal” baru yang berpretensi meredam ”ideologi kekerasan” yang telanjur lekat pada FPI. Ada semacam permakluman bahwa negara lemah dan karena itu aparat negara sering absen ketika praktik kemaksiatan, kriminal, dan penodaan agama berpentas di ruang publik. Sungguh sangat disayang, ia tidak menggali sebanyak mungkin cara baru ala FPI untuk mewujudkan amar makruf nahi munkar.
Klub Buku
- 1/16/2009 01:42:00 AM - 0 komentar
Yang Menderita yang Bertendens
Yang Menderita yang Bertendens
Mendedah novel abad 19 adalah sebentuk upaya licin, pada mulanya, guna mengumpulkan serpihan penafsiran. Dari sini konteks dan relevansi bisa dibayangkan untuk lalu dibenturkan pada isi dan bentuk novel. Inilah yang terjadi dalam seri diskusi Klub Buku dan Film SCTV, 21 Agustus lalu, di ruang rapat redaksi Liputan 6 SCTV, yang membahas novel Victor Hugo, Les Miserables (Yang Menderita).
“Ini novel yang membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan, “ kata Miko Toro yang hari itu mendapat giliran sebagai pendedah. Hadir Leanika Tanjung, Eko Wahyu, Billy Soemawisastra, Henry Sianipar, Aryo Ardi, Dwi Nindyas, Mauluddin Anwar, Moh. Samsul Arifin, Geong Rusdianto, Slamet Widodo, dan Iskandar Siahaan.
Novel yang ditulis Hugo ketika usianya sudah agak lanjut (60 tahun) ini, pertama kali terbit pada 1862 tapi dalam waktu bersamaan juga diterbitkan dalam sembilan bahasa di luar bahasa Prancis sebagai bahasa ibu Hugo. Bercerita tentang transformasi seorang tokoh bernama Jean Valjean yang terpaksa mencuri sepotong roti demi membebaskan tujuh keponakannya dari ancaman kelaparan, novel ini memang mudah jatuh ke genre melodrama.
Klub Buku
- 1/16/2009 01:35:00 AM - 0 komentar
Eat, Pray, Love
Sondang Sirait
Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”
—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39
(taken from a poem by Louise Glück)
Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006
Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.
Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual.
Pencerahan inilah yang ia terjemahkan ke dalam sikap hidup yang tenang dan positif, sesuatu yang diterapkan Gilbert di Pulau Bali, melalui interaksi dengan teman-teman barunya, dan kemudian dengan Si Pria Brazil Idaman. Maka lengkap sudah perjalanannya yang memakan satu tahun. Mission accomplished.
Kisah Gilbert bukan fiksi. Ini pemberontakan pribadi, terbungkus dalam upaya eksplorasi spiritual. Walau terkesan impulsif, tapi keberaniannya perlu diacungi jempol. Dalam hidup modern yang menuntut keseragaman perspektif akan cara menggapai kebahagiaan dan kesuksesan, sungguh menyegarkan melihat masih ada orang seperti Gilbert. Petualangannya mungkin dapat membuka wawasan bagi kita, tanpa harus menjalani apa yang ia lalui.
By the way, salah satu hal yang menarik dari Gilbert adalah ide untuk selalu mencari sebuah kata yang identik dengan diri atau kota yang kita diami. Baginya, kata itu adalah antevasin, berasal dari bahasa Sansekerta, berarti “orang yang hidup di perbatasan.” Ini menjelaskan mengapa ia tak pernah nyaman dalam zona tertentu, dan selalu berusaha melakukan eksplorasi, secara fisik maupun spiritual.
Kita tak mesti setuju dengan cara Gilbert, tapi mungkin menarik untuk memikirkan apa “kata” yang cocok menggambarkan kepribadian atau identitas diri masing-masing.
Obyek Wisata Candi
- 12/14/2008 11:20:00 PM - 0 komentar
Borobudur, Candi Budha Terbesar di Abad ke-9
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.
Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.
Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.
Stop Merokok
- 12/06/2008 03:33:00 PM - 0 komentar
Sekilas Tentang Terapi Medis
Ada berbagai jenis terapi medis untuk stop merokok. Beberapa orang mencoba stop merokok tanpa bantuan, istilahnya disebut "cold turkey" . Beberapa yang lain mencoba metode terapi sulih nikotin, yaitu menggunakan produk-produk yang mengandung nikotin rendah seperti permen karet, lozenges dan lain-lain. Namun, kenyataannya jarang yang berhasil. Mungkin Anda sudah lelah untuk mencoba. Sekarang Anda boleh merasa lega, karena sekarang ada terobosan baru dan pertama solusi stop merokok di Indonesia!
SEKILAS TENTANG TERAPI MEDIS
VARENICLINE adalah sebuah solusi bagi Anda yang ingin stop merokok dan hanya bisa didapatkan dengan resep dari dokter. Produk ini ditujukan bagi orang dewasa. VARENICLINE tidak dianjurkan untuk usia dibawah 18 tahun, wanita hamil dan menyusui serta digunakan bersamaan dengan produk stop merokok lainnya karena belum ada penelitian lebih lanjut. VARENICLINE harus dikonsumsi selama 12 minggu. Konsultasilah dengan dokter untuk mengetahui apakah VARENICLINE tepat dan aman bagi Anda.
Berdasarkan penelitian, beberapa efek samping VARENICLINE adalah mual, sembelit, buang angin atau muntah, dan mimpi abnormal. Gejala mual merupakan efek samping yang paling umum pada sekitar 30% pasien. Namun, hanya terjadi pada masa awal pengobatan dan sifatnya sementara. Konsultasikan efek samping yang Anda alami. Informasikan jenis obat-obatan lain yang Anda konsumsi sebelumnya. Terutama jika Anda mengkonsumsi obat insulin, asma, obat penurun tekanan darah atau memiliki gangguan ginjal.
Ketika stop merokok, tubuh Anda membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan hilangnya nikotin. Bagi beberapa orang, merokok adalah ketergantungan fisik dan perilaku. VARENICLINE membantu Anda mengurangi gejala-gejala yang muncul karena stop merokok, berupa gejala sulit berkonsentrasi, pusing-pusing dan "bad mood". Serta mengurangi rasa nikmat yang diperoleh dari merokok sehingga dorongan untuk merokok dapat berkurang. Jika Anda sewaktu-waktu kembali merokok lagi, teruskan mengkonsumsi VARENICLINE dan cobalah untuk berhenti kembali. VARENICLINE berbeda karena tidak mengandung nikotin. Cara kerja VARENICLINE adalah dengan memblokir nikotin sehingga tidak menempel pada reseptor otak.
Keputusan untuk stop merokok merupakan pilihan yang tepat. Mungkin Anda telah mencoba untuk berhenti sebelumnya dan belum berhasil. Sekarang ada solusinya bagi Anda untuk menikmati hidup sehat tanpa rokok bersama keluarga Anda. Segera kunjungi dan konsultasi secara rutin ke dokter Anda. Ikuti juga program dukungan stop merokok dan ajak orang-orang terdekat Anda untuk ikut terlibat. Niatnya dari Anda, solusinya ada di dokter.
Stop Merokok
- 12/06/2008 03:32:00 PM - 0 komentar
Manfaat Stop Merokok
Risiko-risiko kesehatan akibat merokok sebenarnya disebabkan oleh bahan-bahan lain yang ditemukan dalam rokok Anda. Contohnya, rokok tembakau mempunyai lebih dari 4000 bahan kimia berbahaya dan 250 diantaranya dapat menyebabkan kanker. Berikut ini beberapa dampak dan risiko penyakit akibat rokok:
- Kanker paru-paru, kanker mulut, kanker usus, kanker ginjal, kanker mulut rahim, kanker darah, kanker tenggorokan, kanker pankreas dan kanker kandung kemih.
- Penyakit jantung: serangan jantung dan stroke.
- Gangguan saluran pernapasan: Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), infeksi paru (pneumonia) dan asma.
- Pada kehamilan dan persalinan: berat badan lahir rendah, komplikasi kehamilan, infertilitas dan kematian janin secara mendadak.
- Lain-lain: luka lama sembuhnya, tulang pinggul retak, densitas tulang yang rendah dan katarak.
Stop Merokok
- 12/06/2008 03:16:00 PM - 0 komentar
MEROKOK SEBAGAI RUTINITAS
Jika Anda memang berniat untuk stop merokok, lakukanlah langkah pertama Anda dengan mengenali pemicu-pemicu tersebut dan konsultasikan ke dokter. Merokok bukan hanya sekedar rutinitas semata. Tahukah Anda bahwa rutinitas merokok adalah suatu bentuk ketergantungan nikotin?
Resensi Film
- 12/04/2008 12:00:00 AM - 0 komentar
FILM Kawin Kontrak kembali hadir versi terbaru, Kawin Kontrak Lagi. Lagi-lagi film ini mengocok tawa dengan aksi-aksi kocak dan konyol. Plus bumbu seks dan porno yang masih dalam batas wajar. Patut dipuji film ini jauh lebih baik dari film Kawin Kontrak pertama. Film ini memberikan karakter-karakter yang berbeda dari sebelumnya. Seperti Jody (Ricky Harun) misalnya, yang tadinya jadi pengontrak kini jadi makelar. Karakter Kang Sono (Lukman Sardi) dibuat semakin lucu dan sok tahu. Juga menghadirkan karakter baru Bos Maung (Teno Ali) yang akan mengocok tawa penonton dengan gaya militernya dipadukan dengan gaya presenter terkini. Film ini bercerita tentang seorang mahasiswa yang membutuhkan biaya hidup untuk dirinya dan keluarganya. Jody yang sudah berpengalaman dengan seks selalu dimintai ketiga temannya agar diajari soal seks. Berkali-kali meminta Jody, pada akhirnya Jody punya ide bahwa itu bisa menghasilkan uang. Jody yang doyan tante bergabung dengan Kang Sono, sang makelar. Hasilnya adalah kehebohan ala Kawin Kontrak Lagi. Lebih lucu, lebih seru, lebih... gila! Desa Pakelonan siap menampung para pejuang cinta dari kota, cewek-ceweknya lebih cantik, lebih ahli, dan lebih... matre. Plus satu bonus panas dari Teh Euis (Wiwid Gunawan). Filma akan kurang seru kalau tidak ada rintangan pemicu konflik. Ada Bos Maung yang sangat ditakuti semua orang karena menerapkan sistem militer untuk menjalankan bisnisnya. Itu membuat satu orang calon istri kontrakan (Talaita Latief sebagai Sesi) yang paling cantik dan mahal, tidak tahan dan kabur minta perlindungan kepada Teh Euis. Film ini mampu mengocok tawa dan menghibur. Ditambah lagi wanita-wanita penghiburnya yang cantik, bisa menyegarkan mata. Tapi, dengan aksi yang lucu dan kocak justru film ini mengingatkan pada film-film komedi China. Tak ubahnya, film itu justru seperti reinkarnasi film-film komedi China.
Kawin Kontrak Lagi sudah bisa disaksikan di bioskop mulai 27 November 2008.
Pemain:
Ricky Harun (Jody)
Lukman Sardi (Kang Sono)
Wiwid Gunawan (Teh Euis)
Teno Ali (Bos Maung)
Talita Latief (Sasi)
Aditya (Hakim)
Adella Rasya (Viva La Diva)
Deby Ayu (Kokom)
Cut Mini (Sus Miranda)
Sutradara:
Oddy C. Harahap
Produser Eksekutif:
Gobin Punjabi
Produksi:
MVP Pictures.
Blog Tutorial
- 12/02/2008 11:29:00 AM - 0 komentar
Panduan Membuat Blog di Blogspot

Mungkin ada diantara anda-anda yang belum tahu tentang blog dan bertanya-tanya tentang blog, maka saya akan mengulas sedikit tentang blog menurut versi saya sendiri.
1. Apa itu Blog ?
Blog ( singkatan dari Web log) adalah situs yang sifatnya lebih pribadi, yaitu lebih berat kepada penggambaran dari si pembuat blog itu sendiri.
Blog dibuat oleh para desainer penyedia blog agar bekerja secara otomatis dan mudah untuk dioperasikan , jadi bagi kita-kita yang masih bingung dengan bahasa pemrograman untuk membuat sebuah website tidak jadi persoalan. Apabila anda sudah bisa membuat sebuah account email di internet, maka dalam membuat blog pun saya yakin anda bisa.
2. Cara membuat blog
Seperti halnya e-mail, dalam membuat blog pun kita harus mempunyai sebuah account terlebih dahulu, oleh karena itu silahkan daftarkan diri anda terlebih dahulu di free blog provider (penyedia hosting/domain blog gratis). Free blog provider sangatlah banyak terdapat di internet dan beberapa yang populer saat ini adalah http://www.blogger.com, http://www.wordpress.com serta http://blogsome.com.
Dalam kesempatan kali ini saya akan mengulas tentang cara pembuatan blog di http://www.blogger.com, Silahkan anda klik gambar dibawah untuk mendaftar.
ciptakan blog sekarang juga
Setelah anda berada pada situs blogger.com, anda akan melihat gambar seperti gambar di atas. Silahkan lakukan langkah-langkah berikut ini :
1. Klik tanda anak panah yang bertuliskan " CIPTAKAN BLOG ANDA "
2. Isilah Alamat Email dengan alamat email anda (tentunya yang valid)
3. Isikan kembali alamat email anda tadi pada form Ketik ulang alamat email
4. Tuliskan password yang anda inginkan pada form Masukkan sebuah password
5. Isikan kembali password anda tadi pada form Keyik ulang sandi (password)
6. Isi Nama Tampilan dengan nama yang ingin anda tampilkan
7. Tulis tulisan yang tertera pada form Verifikasi Kata. Beri tanda tik/cek pada kotak di pinggir tulisan Saya menerima Persyaratan dan Layanan.
8. Klik gambar anak panah yang bertuliskan "LANJUTKAN"
9. Tuliskan judul blog yang anda inginkan (nanti bisa di rubah lagi) pada form Judul Blog
10. Tulis nama situs anda pada form Alamat Blog (URL)
11. Tulislah tulisan verifikasi yang ditampilkan pada form Verifikasi kata, jika sudah selesai klik gambar panah yang bertuliskan "LANJUTKAN".
12. Pilihlah gambar (template) yang anda inginkan (nanti bisa di rubah lagi), kemudian klik gambar anak panah yang bertuliskan "LANJUTKAN"
13. Setelah keluar tulisan "Blog Anda telah di iptakan". Klik gambar panah bertuliskan "MULAI POSTING". Silahkan anda tuliskan semau anda, jika sudah selesai klik tombol "MEMPUBLISKAN POSTING".
3. Isi ( Content ) blog :
Bagi para pemula, biasanya mereka bingung setelah daftar membuat blog apa yang harus di isi( diposting ) dalam sebuah blog. Isi ( content ) dari sebuah blog tentu saja terserah kepadasi pemilik blog itu sendiri, apakah mau di isi puisi, perjalan hidup, teknik, ataupun apa saja. Nah di sini saya menyarankan, isilah blog anda tersebut dengan minat ataupun hoby serta keahlian anda sendiri, karena tentu saja di luar sana banyak sekali orang yang tentunya sama minat dan hoby nya dengan anda, sehingga mereka akan tertarik untuk membaca tulisan-tulisan anda.
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:38:00 AM - 0 komentar
Jawaban Untukmu
Walau, kutahu kau sulit menerima jawabku
Lewat sepucuk surat tak bernama
Aku haturkan seuntai resahku
Tentang jalan yang kutempuh
Yang tak seorangpun mau rengkuh
Sebab tak tahu jalan ini berakhir ke mana
Ini bukanlah jalan yang nyaman! Sekali-kali bukan!
[Sementara kau menuduhku berleha-leha]
Malahan, begitu berduri dan menanjak
Terkadang aku menangis dalam diam, kau kan tak tahu itu
Dan rasa sakitnya mencabik-cabik jiwaku
Sebegitu perih jalanku, aku menyimpannya dalam tawa
Tapi, apakah aku harus mundur karenanya?
Sebab aku bukanlah pengecut, aku melawan takut.
Kisah ini memang hanya diperuntukkan bagiku
Akulah yang menulis awal cerita
Aku pulalah yang mengakhirinya
Karena aku seorang laki-laki
Dan laki-laki harus menepati janji
Walau bisa jadi kisah ini tak berakhir bahagia
Mungkin saja aku terperosok jurang, lalu mati
Namun setidaknya aku berjuang atas apa yang kupercayai
Sehingga matipun, masih memiliki arti
Kau mungkin tak pernah tahu
Bahwa aku pun merindukan teman seperjalanan
Sebab keterasingan membawakan dendam
Hei, pandanglah aku sebagai manusia
Bukan sebagai mesin tak bernyawa
Ada kalanya aku begitu lemah, dan butuh pertolongan
Hanya saja, aku tak tahu bagaimana meminta
Sebab akulah serigala yang diasuh oleh buasnya kehidupan
Sehingga taring-taringku begitu tajam
Dan cakar-cakarku meruncing seram
Dalam perjalanan panjang, aku berburu sendirian
Aku hanya tahu bertarung, bukan bercinta
Selama ini, hanya angin lalu jadi kawan bicara
Dalam rintik hujan, aku melolongkan kesedihan
Hidup dalam membangkang, berbeda dan tak serupa
Hingga rembulanku pun mengutukku nista
Lalu makhluk lain mengintip dalam dusta
Walau demikian, aku tak ingin menyakiti siapapun
Sebab jalan ini sangatlah licin dan curam
Tak banyak yang mau melaluinya
Ataupun selamat mengakhirinya
Dalam pengembaraan, kulihat mayat-mayat bergeletakan
Lalu, haruskah aku menyeret seseorang?
Hanya demi kegembiraan seorang resah,
Sehingga aku mengorbankan tumbal
Sampai langit mengungkapkan takdir
Sampai matahari menerakan cahya
Dan menyuruhku beristirahat dalam selimut dunia
Aku takkan berhenti
Aku kan terus berlari
Walau sendiri mengundang sedih
Kusudahi surat ini dengan harapan
Agar kau jangan coba menghakimi
Sekali-kali jangan! Sebab resah dapat menjadi amarah
Dan kau sama sekali tidak mengenalku
Hidup dan jiwaku seperti labirin
Yang manusia tak tahu apa dibaliknya
Begitulah aku, sebegitu pula jalanku.
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:37:00 AM - 0 komentar
Satu Jalan, Yang Pasti Melawan
Untuk melihat tunas bangsa ini dalam senyum
Tanpa perlu takut derita merajalela
Saat kemelaratan memagut maut
Menjadikan benih generasi melayu sayu
Meranggas oleh genangan air mata
Dan tumbang, sebelum saatnya berkembang
Apakah ini hanya mimpi?
Untuk berdiri tegak sejajar
Tanpa perlu tertunduk malu
Sebab moral masyarakat sudah sedemikian bejat
Di negeri dimana korupsi dilegalkan
Agama diperjualbelikan dan dikebiri
Sedang hukum diperkosa oleh birokrasi
Apakah ini hanya mimpi?
Untuk mengikut pada angin perubahan
Yang menghembus, berpilin, dan berputar
Meruntuhkan bangunan-bangunan kezaliman
Bersama dengan pemuda-pemuda zaman
Yang tetap menentang, walau aral melintang
Bersikukuh pada idealisme, bukan kenyataan
Satu mimpi, yang mesti digenapi
Satu jalan, yang pasti melawan
Jikalau dan jikalau,
Mimpi ini selamanya hanyalah mimpi
Jangan pernah biarkan aku terbangun!
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:36:00 AM - 0 komentar
Jika
Tentang apa cinta bercerita
Jika pangeran boleh berhasrat,
Oleh apa kasih diikat
Jika perenung boleh melamun,
Ialah takdir akankah bersambung
Demi masa depan yang tiada pasti
Pengelana mimpi berjuang mencari arti
Berharap jawab yang terus saja sembunyi
Di balik hati seorang putri
O, hanya gaung bisu diperdengarkan
Untuk sekuntum kembang, begitu menawan
O, akankah khianat, engkau wahai harap?
Mendesah rindu, bersambut senyap
Satu kata, sungguh sulit diungkap
Terhasut takut, berpadu malu
Kepada pemilik nama yang ingin diucap
Hadirkah aku, di sela benakmu?
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:36:00 AM - 0 komentar
Dewi Surgawi
Untuk permata nan terus dicari
Akankah waktu menyibakkan tabir?
Akankah takdir tersenyum hadir?
Kulihat puspa seroja sehasta jaraknya
Wahai dewi, yang namanya tertera di kelopaknya
Adakah pintu surga kau yang membawa kuncinya?
Untuk kehormatan yang ingin kujaga
Satu mimpi yang masih dinanti
Satu iman yang harus digenapkan
O, biduk bahtera yang lelah bersauh
Kemanakah kemudi berpulang berlabuh?
Jika kata sudahlah sia
Jika air mata tak lagi ada
Untuk ungkapkan beban disimpan dalam
Oleh sunyi sepi, di malam tiada rembulan
Sebab ini bukan lagi rasa
Melainkan keyakinan tanpa sesalan
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:35:00 AM - 0 komentar
Pada Sesatan Jalan
Aku sumpahi malam tiada pelita suci
Jika naluri membawaku pergi
Sedang hasrat mengikat kuat
Lalu apa yang menyisa?
Hanya lelah yang kudapati
Tanpa sedikitpun bahagia
Aku muak!
Tak lagi bijak
Aku muak!
Dan jiwaku rusak
Dan, iblis selalu merayap dekat
Merayuku pada akhir celaka
Penuh bujuk dan tipu daya
Untuk sekali lagi terantuk
Terjatuh, tenggelam semakin dalam
Tak bisa berhenti, aku terus berlari
Tapi sesuatu menarikku kembali
Aku muak!
Tak lagi bijak
Aku muak!
Dan jiwaku rusak
Aku bermohon pada-Mu sangat
Hanya tak banyak jawab
Dan tiada lagi isyarat
Jika bukan pada pintu-Mu,
Lalu kemana aku harus berpaling
Sebab, tiada selain Engkau yang Maha Tahu
Sungguh, aku takut ajal menjemput
Sebelum doaku ini bersambut
Aku ingin pulang pada-Mu
Tapi, tak ada rumah lagi tuk kembali
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:34:00 AM - 0 komentar
Tentang Derita
Tentang arti derita
Jikalau tidak dalam satu waktumu
Kau menggigit lidahmu keras, sampai kebas
Tuk menetak rasa sesak
Tuk menolak merintih pada pedih
Kau ingin menangis, tapi tak bisa
Kau berdoa untuk menangis, tetap tak bisa
Air mata lama telah kau buang,
Agar roda terus berjalan dan bertahan
Kini, kau ingin memanggilnya
Untuk tahu bahwa kau masih manusia
Tapi yang tersisa darimu hanyalah –
Hatimu yang dingin membeku
Dan gurun luas tanpa batas
Tak ada apapun
Tak ada siapapun
Tak pernah merasa kehilangan
Karena tak jua pernah memiliki
Dan dunia hanyalah cawan kosong belaka
Dan kehidupan menorehkan dendam
Untuk siapa, dan untuk mengapa
Kau mungkin takkan pernah tahu
Saat resah berubah jadi amarah
Saat lara tanpa lembut belaian
Hingga tak banyak yang tersisa
Hanya kepingan kerikil hampa
Waktu mencarutkan luka sembilu
Tiada tersapu, oleh senyum palsu
Dalam satu waktumu yang itu
Tak seorangpun menginginkanmu
Sebab tak seorangpun memahamimu
Tak ada! kecuali egomu yang membatu
Saat memohon tolong; engkau dibokong
Oleh mereka yang menetap dekat
Oleh mereka yang mengaku sahabat
Dengan pedang kata, menghujam sangat
Hinaan demi hinaan mesti kau kerat
Tiap detik tak jua berhenti, berlalu begitu lambat
Dan kau bertanya sebab apa semua derita ini
Dan kau bertanya mengapa engkau terlahir berbeda
Dan kau bertanya tentang maut yang tak jua mau menjemput
Dan kau bertanya tentang arti hidup dan keberadaanmu
Dan kau bertanya benarkah ada akhir bahagia
Tak banyak jawab, hanya rasa sakit yang menusuk tetap
Tak banyak jawab, dan kau mesti terus bertahan tetap
Meski dunia dalam gulita, tak pula ada cahya
Sementara itu, semua orang menjadi hakim
Dan kau tertuduh, di antara serigala lapar
Kecuali kau, semua merasa benar
Tanpa pernah sekalipun mereka bertanya
Tak sekalipun mereka coba bertanya....!
Sepi di antara keramaian
Sepi yang tak bisa hilang
Kau bawa rintihmu selalu
Untuk disimpan lalu
Jangan, jangan pernah bicara padaku
Tentang arti derita,
Jikalau hidupmu bertabur semburat,
Berbantal senyum, berselimut kasih
Tak satu waktumu kau mengalami derita sesungguhnya
Tapi, siapalah aku bicara padamu
Tentang arti penderitaan
Sebab aku bukanlah –
Bukanlah Ayyub dalam kisah abadi
Yang dimuliakan Tuhan oleh ujian
Untuk melawan derita dalam sendiri
Demi iman sebagai penghujung jalan
Bukan pula Nuh, bahtera nan berlayar
Diabaikan sanak saudara, demi keagungan taqwa
Menjelajah negeri, mencari ridha-Nya
Tanpa pernah berkeluh kesah,
Dalam waktu yang ratusan tahun
Tahun-tahun panjang di mana darah dicucurkan
Ia membangun kerajaan di atas perahu dan karang
Menempuh bahaya, melintasi samudera
Bukan, bukan pula Muhammad,
Sang risalah utama yang berjalan
Olehnya, umat mengenal selamat
Bahwa ia dilempar batu dan berdarah,
Bahwa ia terusir dari kampung halaman,
Bahwa ia diludahi lalu dicaci maki
Itulah harga yang mesti dibayar
Untuk keyakinan termaktub di dalam dada
Untuk kemenangan hakiki nan abadi
Mereka, mereka mengenal derita sesungguhnya
Untuk apa derita, untuk siapa diperuntukkan
Jalan yang menanjak, berbatu, dan tajam
Mereka lalui dengan ta’bah, tak sekalipun menyerah
Tak sekalipun menyerah; Namun selalu berserah pasrah
Maka,
Jika nestapa ialah tangga;
Kan kudaki sampai ujungnya.
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:32:00 AM - 0 komentar
Surga di Bumi
Teka-teki misteri perlahan terkuak
Dan cahya terang merasuk ke kamarku yang suram
Aku melongok keluar jendela, untuk menyaksikan
Lalu kulangkahkan kakiku mengitari kota
Menghirup napas kebebasan yang melegakan
Dan dunia serasa berubah
Sebab semua menjadi lebih indah
Walau hati ini masih berkandung gundah
Semangatku seakan membuncah
Dan mimpiku berkecambah;
Jalanku menjadi lebih terjal, tetapi sekarang jelas
Hutan mana yang mesti kuterabas
Tak peduli sakit ataupun panas
Segalanya kuterima dengan hati puas
Sebab Rajawali takkan tumbuh jika takut terbang
Dan mentari tak ditakdirkan sembunyi di balik awan
Jika manusia enggan berjuang,
Lalu apa yang didapatkan, kecuali putus asa dan kesedihan
Hari ini, aku hidup demi mimpiku sendiri
Hari ini, mimpiku lebih berharga dan segalanya
Untuk membuktikan bahwa aku benar;
Bahwa keberanian melahirkan keberhasilan
Ketekunan melampaui semua kekuatan
Dan kejujuran bukanlah kelemahan
Hanya satu jawabnya,
Mahkota Sang Raja di istana mesti digenggam
Tapi suatu saat nanti, aku ingin hidup untuk orang lain
Dadaku selalu sesak melihat anak-anak jalanan
Mereka mengemis dan kelaparan
Dan ibu yang menangis tertahan
Saat bencana datang tanpa peringatan
Mereka yang tertindas memohon pertolongan
Untuk keadilan yang tak jua datang
Oh, bangsaku yang wajahnya tercoreng arang
Tunggulah, jika saatku tiba;
Saat aku cukup kuat menanggung beban
Saat kata-kataku bukan lagi angin yang tak dipedulikan
Aku ingin membangun surga
Di atas bumi yang tak sempurna
Dimana semua orang bisa bahagia
Saling berbagi, walau hanya sejumput doa
Sekarang, mungkin tanganku terulur lemah
Dan hanya bisa kusampaikan keluh kesah
Tapi, mimpi untuk suatu saat nanti
Takkan boleh mati; Mesti jadi abadi
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:30:00 AM - 0 komentar
" Wahai, Apakah Itu Cinta?
Kulihat, tanpa sedikitpun segan, mereka menggamitkan jemari tangan
Kata cinta menguar di angkasa, menghayutkan gemawan mega
Mangaburkan keindahan bintang gemintang, panji dan agungnya bentara
Namun di sini, berdiri aku dalam keraguan
Tak mengerti dan terus bertanya :
Apakah segalon cinta lebih manis ketimbang sececap cita?
Dan apakah bahagia terwujudi harus dengan dimiliki?
Dan apakah seorang pangeran hanya dapat menjadi raja,
Pabila mempersandingkan permaisuri di sisinya?
Dan tanya itu menggiringku masuk ke dalam labirin tua
Lorong pekat penuh lembap yang dindingnya berkeropeng dusta
Penuh tipu daya, tiap simpangannya menyesatkan pengelana
Aku ikuti setitik cahya, dan kulihat jawab di ujungnya
Aku bertanya lantang, “Wahai, apakah itu cinta?”
Kulihat sepasang muda-mudi bergelayutan mesra
Sang gadis tertawa mengikik, sang pemuda menggeliat laknat
Sahutnya, cinta adalah hari ini
Yang tergantikan segera oleh hari esok
Dia adalah kesenangan yang berkelindan selalu
Birahi yang terpuaskan, nikmat yang berseliweran
Aku tercenung, dan terus termenung
Jika cinta adalah pesta pora, lalu apa arti cerita Majnun
Cinta baginya adalah kisaran derita
Tetapi Majnun hanya tahu itu cinta, walau dia buta
Oh, betapa takdir cintanya berakhir nestapa
Aku berpaling dari mereka yang mencemooh nakal
Lalu aku pergi menuju ujung lain lorong teka-teki
Kuikuti suara-suara merdu, tawa, dan musik syahdu
Walau gelap pekat, suara itu menuntunku pasti
Dan akhirnya kulihat panggung megah berdiri kokoh
Dipenuhi penyair dan pujangga sepanjang masa
Dadaku serasa bergolak, aku menyeruak dan berteriak, “Wahai apakah itu cinta?”
Seorang pujangga menoleh, berdiri, dan menjawab panggilanku lalu mulai bersyair,
Cinta adalah roman tanpa batas
Inspirasi yang takkan mati; Api yang takkan padam
Yang geloranya membuatmu remuk redam
Tapi, bagai kecanduan, kau akan terus menyesapnya
Membuatmu merasa terbang menuju menuju mentari yang menyala perkasa
Sekali lagi, keraguan menyelinap dan membisik
Mestikah begitu, sebab kulihat nyala sangat redup
Menyambangi jalinan pernikahan yang suci
Gairah sejoli telah berakhir, tapi tidak memupus ikatannya
Tapi mereka masih menyebutnya cinta
Walau madunya telah habis, Sang kumbang masih hinggap di atas kembang
Aku melengos tak puas, dan berjalan tak tahu ke mana
Kususuri lorong berliku, begitu panjang jalanan, begitu terjal undakan
Dan pada satu tangganya, kulihat seorang pengemis renta mengharap derma
Dia berkata, “berikanlah milikmu yang terbaik, dan kusampaikan kebijaksanaanku”
Aku sebenarnya tak ingin percaya, tapi kakiku terlalu letih mencari jawab
Kuulurkan sebongkah batu mirah sembari bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”
Si pengemis diam dalam takzim, dan menjawab,
Cinta adalah menghamba tanpa bertanya
Ketaatan tanpa memerlukan jawaban
Kau memuja, dan menjadikan dirimu budak dengan sukarela
Kata-kata cinta adalah perintah yang tiada terbantah
Aku terpekur dan tak henti berpikir
Jika cinta merupakan penghambaan, lalu apa arti cinta Ilahi?
Dia yang menurunkan hujan, dan lebih agung dari apapun jua
Dia yang memberikan rizki kepada orang paling durjana sekalipun
Dia yang mencintai makhluk-Nya, dan tak memerlukan apapun dari makhluk-Nya
Aku merasa rugi atas permata yang terbuang percuma
Ini bukanlah kebijaksanaan; melainkan kedunguan!
Cinta si pengemis selamanya menjadikan dirinya pengemis
Yang mengiba, meminta, dan mengharap sejumput kasih
Jika ini dinamakan cinta, maka terkutuklah kata cinta!
Aku muak atas pencarian ini, lalu memutuskan keluar
Labirin tua tak lagi mengurungku, dan bau laut seakan memanggilku
Ini adalah aroma kebebasan yang menarik para pemberani
Dan seperti cerita lama, aku berlayar menuju samudera berombak, –sendiri
Angin kencang membantu lajuku, dan kapalku menuju horizon di tapal batas
Mencari dunia baru untuk ditaklukkan
Di ujung dek aku berteriak penuh kegembiraan
Walau kegembiraan itu kadang dibayar oleh rasa hampa di tengah lautan
Oh, tahun-tahun berselang; musim-musim berganti datang
Waktu-penuh-kenangan yang berkandung duka dan suka
Namun, pada suatu hari yang mengejutkan
Badai datang menenggelamkan apa yang tersisa
Aku lihat puing-puing yang karam, dan onggokan
Sementara aku hanyut ditemani tongkang yang terombang-ambing
Entah mengantarkanku ke mana
Di suatu tempat, saat aku membuka mataku
Aku rasai pasir lembut yang harum baunya
Dan riak ombak bermain-main di sekujur tubuhku
Apakah ini tanah orang- orang mati, ataukah aku masih hidup?
Oh, betapa hausnya aku…seteguk air akan mengobatiku
Dan, aku lihat sesosok datang mendekat
Sorot matanya menatapku lekat
Lalu menuangkan seteguk air pada bibirku yang kekeringan sangat
Pandanganku terasa kabur, dan dunia terasa berputar begitu cepat
Aku berharap dia adalah malaikat tak bersayap yang memberikan jawab
Aku merasa maut sebentar lagi menjemput,
Jadi tak ada salahnya bertanya, toh rasa malu akan terbawa lalu
Setelah sekian lama, sekali lagi aku bertanya, “Wahai, apakah itu cinta?”
Dia termangu,dan hanya tersenyum
Untuk menenangkan jiwaku yang sekarat, dia menatapku lembut
Dan kata-kata bagai menetes dari mulutnya
Kata-kata serasa madu yang manisnya teringat selalu, Jawabnya :
Cinta bukanlah benda untuk dimiliki
Tetapi tindakan untuk diperjuangkan
Cinta adalah kebaikan tanpa imbalan
Pernahkah mentari bertanya padamu atas sinarnya yang terang
Dan pernahkah pepohonan meminta jawaban atas keteduhannya
Jika kau memberikan segelas air pada orang asing,
Dan dia tak berhutang padamu apapun
Itulah cinta.
Bagaikan petani, kau menanam benihnya
Lalu orang lain memakan buahnya, menghilangkan rasa laparnya
Tetap ingatlah, cinta adalah pilihan hatimu
Bukan keterpaksaan dari rasa takut
Sebab cinta tidak pernah membuatmu merasa kehilangan
Dia terus membuat hatimu merasa kaya
Namun, sungguh dunia telah tercerai berai,
Dan manusia menjadi tersesat oleh makna cinta
Tergelincir keserakahan, cinta menjadi memabukkan
Untuk memiliki, bukannya memberikan
Untuk menguasai, bukannya mengasihi
Jika cinta tinggallah nafsu diri belaka
Yang tersisa hanyalah kerusakan semata
Tiada peduli sesama; Semuanya mengagungkan diri jua
Orang menamakannya cinta; tapi itu hanyalah dusta
Hari itu, aku tahu
Bahwa perjalananku bukannya berakhir,
Tetapi baru saja dimulai
Lalu aku mengatup mata
Dan mulai mendoa
Untuk satu pilihan kata di hati.
Pecinta Syair
- 11/26/2008 12:28:00 AM - 0 komentar
A Dream's Journey
Di sentuhan lembut yang pergi terenggut
Kisahku dimulai bercumbu sendu
Mencari arti hidup bersandar secuil redup
Di relung ragu aku menatap cemburu
Pada tegar rembulan bersinar terang
Walau mentari pergi sembunyikan diri
Rembulan datang menantang malam
Tergerak sesak, aku berlari di antara retak
Lalu jauh menyepi mensucikan hati
Menuntaskan ilmu, merundukkan kalbu
Bersua mimpi yang tiada bertepi
Dan mimpi itu bersemi
Mengisi hari di tajamnya duri
Secercah harap membuyarkan senyap
Membisikkan arti di jiwa yang mati
Kulalui lorong sempit. Walau sakit!
Untuk impian yang hadir berselang
Di tengah kota, kusapa makna
Di antara lara, di serambi noda
Menaiki tangga, aku mencapai nirwana
Sendiri. Aku pergi.
Mendaki. Jalan janji.
Di gerbang surga, kuketuk rasa
Tapi...
Sepi
Meski...
Tinggi
Lama kutermenung di menara agung
Jiwaku lapar, lalu aku turun ke selasar
Kembali, ke tanah bumi
Berlaku sujud, untuk mewujud
Namun aku tersandung di ujung palung
Di pekat paling pekat
Di hasrat tak tersurat
Oleh takdir yang terus ikut hadir
Gelap itu kembali menghalangi waktu
Dan pegangan tangan tak lagi erat tergenggam
Kabut kemelut menyisakan sejumput takut
Tentang simpangan jalan mensesatkan
Walau remang aku masih terus berjuang
Kepada impian yang menyesapkan tujuan
Malam dan pagi, hanya mimpi itu yang menemani
Memendarkan cahaya samar, di atas kanvas pudar
--
Memoar of A Journey
Wondering how it ends







